Para pembaca Yth..............

Tulisan dibawah ini hanyalah kesimpulan saya dari hasil analisa yang masih dangkal mengenai sejarah MinangKabau. But I can assure you, there is no any sentence (s) in this work has quoted from the WebSite

Monday, April 19, 2010

Pengaruh VOC terhadap kerajaan PAGARRUYUNG


Dja'a Dt BATUAH (famous name; Damang CENGKOK, because his right-hand was bent/crooked) - Demang Ampek Angkek, Tilatang, in 1900 - Having medallions from Dutch's Queen - Really my ancestor..ckckckckckck

Pada akhir abad ke 17, kekuasaan VOC didunia perdagangan diwilayah Sumatra sudah sedemikian mengguritanya. Dengan jalan menguasai aspek ekonomi dan politik diranah Minang, Verenichde Oost Indische Company (VOC) telah menjadikan kota Padang sebagai pusat kegiatan perdagangan dan politik demi kepentingan mereka para petualang-pedagang belanda saat itu. Dalam perjalanannya, sering terjadi pertempuran2 sengit diwilayah MinangKabau, hal tersebut disebabkan antara lain karena kelompok pedagang asal Aceh masih ingin berusaha merebut kembali hegemoni perdagangan mereka yang sudah terdesak keluar wilayah Minang. Pengaruh VOC ini juga sedikit banyak mulai mengguncangkan tatanan ekonomi dan budaya yang berimbas pada keturunan kerajaan Pagarruyung pada masa itu, dengan munculnya konflik horizontal antara penganut ajaran Islam aliran Wahabbi (diduga sangat mirip dengan kelompok TALIBAN atau ALQAEDA sekarang, mungkin sama juga dengan syariat Islam ala ormas FPI?) dengan kelompok kaum adat yang dianggap saat itu sebagai penganut paham sekularisme didalam lingkungan keluarga kerajaan keturunan dari dynasti Adityawarman.

Bermula pada tahun 1803, ketika tiga orang haji (H Miskin, H Sumaniak & H Piobang) penganut aliran Wahabbi yang baru pulang dari Mekkah dan merupakan kelompok penganut yang secara kekerasan ingin mengembalikan kemurnian ajaran islam sesuai dengan mazhab Hambali (??), melakukan revolusi Islam di ranah Minang. Ketiga haji tersebut masuk kedaratan Sumatra melalui pelabuhan Pedir diwilayah Aceh, lalu melalui jalan darat menuju MinangKabau. beserta para kaum muda simpatisannya yang bermarkas didaerah Bonjol (memang desa ini tempat bermukimnya pedagang asal Aceh!!), mereka sangat tidak suka dengan penganut Islam yang menjalankan hukum agama secara sekuler yang lebih fokus pada adat dan kelembagaan atau aturan hukum yang dipengaruhi oleh kolonialis Belanda (katanya), hingga dianggap tidak sejalan lagi dengan kemurnian ajaran Islam yang menurut mereka tidak boleh berpandangan sekular. Mereka, para pengikut aliran Wahabbi menganggap sistem pemerintahan presidium TIGO RAJO dengan gelar "Tungku nan Tigo Sajarangan" pada masa itu telah melakukan praktek2 yang melanggar hukum agama. Sangat kuat dugaan bahwa gaya sistem pemerintahan Presidium tersebut adalah hasil rekayasa VOC (kata mereka lagi) demi untuk memecah belah kekuatan MinangKabau dibawah koordinasi Pagarruyung. Walaupun pada dasarnya sistem Presidium tersebut lebih mencitrakan sistem manajemen administrasi Feodal-Aristokrat ala laras KOTO PILIANG. Dari sudut pandang kolonialist, pemisahan antara penguasa falsafah adat serta lembaga, dan pengawas penjabaran hukum Islam, dapat menjadikan Pagarruyung tidak mempunyai kesatuan pandangan dalam politik pemerintahannya, sehingga hal tersebut akan menguntungkan VOC dalam melakukan perdagangan dengan wilayah MinangKabau, ketimbang dimasa sebelumnya yang sangat didominasi oleh perantau wilayah aceh !!

CATATAN KECIL
Memang, pada masa itu ditenggarai perjudian & sabung ayam sangat diminati oleh sebagian dari masyarakat Minang, akan tetapi kebiasaan itu sudah berakar sejak jaman sebelum Islam diterima oleh masyarakat Minang, terkenal dengan istilah "ba'ampo'" atau melakukan taruhan disetiap permainan apapun....tapi apapun tidak dapat dijadikan alasan untuk memaksakan kehendak secara brutal(pribadi atau kelompok) agar masyarakat Minang harus menjalankan ajaran Islam dengan benar & baik berdasarkan keyakinan mereka (aliran Wahabbi), karena jauh sebelum itu MinangKabau telah menganut paham DEMOKRASI, segala sesuatu tidak dapat dilakukan dengan cara yang ZOLIMMMMMMM....tauu!!.

Terlepas apakah dinasty ADITYAWARMAN masih sangat diragukan keaslian darah Minang nya, menurut saya kerajaan Pagarruyung saat itu tidak dapat disamakan dengan kerajaan seperti SAMUDRA PASSAI di Aceh dimana peraturan & hukum kerajaan nya jelas2 berdasarkan syariat Islam. Oleh karena itu sistem kerajaan Pagarruyung yang SEKULARISME sah2 saja dan kebrutalan penganut Islam Wahabbi (kaum PADRI) saat itu terhadap keluarga kerajaan dapat dianggap melakukan pelanggaran HAM berat!!!!

Kesimpulan saya, kita tidak usah PERDULI dengan "PERS RELEASE" dari kedua belah pihak, karena kedua-duanya hanyalah berusaha menyelamatkan HEGEMONI dan kepentingan ekonomi-perdagangan masing2 !!

Sunday, April 18, 2010

Punahnya keluarga kerajaan PAGARRUYUNG

Christine DOBBIN - Islamic revivalism in a changing peasant economy; Central Sumatra 1784-1847 - Curzon Press, 1983 - Related with Rosihan ANWAR's article; PADRI war that you had never been knew (source: G. Teitler - Het einde van de Paderieoorlog: Het beleg en de vermeestering van Bonjol, 1834-1847), Kompas news February 6, 2006


Some says - This narsis Man is one of the King of PAGARRUYUNG Kingdom - Descendant of ADITYAWARMAN - I don't thing he is an INDIGENOUS Minangkabau man

Sejalan dengan masa dimana VOC telah menancapkan pengaruhnya diwilayah MinangKabau, salah satu pengikut revolusi Islam dari kelompok kaum muda bernama PETO SYARIEF yang berasal dari desa BONJOL, memimpin pemberontakan tahun 1821 demi untuk menyebarkan doktrin PADRI yang dikenal dengan nama perang PADRI. Pada intinya doktrin tersebut ingin mengembalikan kemurnian ajaran Islam dan menghilangkan sekularisme serta hal yang PALING PENTING bagi mereka (para pedagang asal Aceh yang kecewa)adalah merebut kembali kontrol dan dominasi perdagangan diwilayah Minang dari tangan kolonialis (kembali ketangan mereka, jadi jangan buru2 menganggap Imam Bonjol sebagai pahlawan nasional !!). Dilain pihak keluarga kerajaan Pagarruyung juga tidak tinggal diam dan dengan bekerjasama dengan pihak VOC (sebagai mitra dagang), pada tahun 1837 kelompok Bonjol (Padri) akhirnya berhasil dihancurkan dan pemimpinnya PETO SYARIEF (Mr. Imam Bonjol), Imam dari daerah BONJOL berhasil ditangkap dan dibuang ke Menado.

Akibat dari perang PADRI, pihak VOC malah mendapat dua keuntungan yaitu, kembali menguasai secara mutlak wilayah Sumatra Barat serta memecah belah tatanan kehidupan sosial-ekonomi masyarakat Minang, karena pada masa perang tersebut, terjadi juga perang saudara yang menimbulkan pembunuhan massal terhadap keluarga kerajaan Pagarruyung yang dilakukan dengan bengis oleh kelompok yang dipimpin oleh seorang yang (diisukan) menjuluki dirinya sebagai Tuanku LELO. Punahnya keluarga keturunan dynasti Adityawarman mengakibatkan hilangnya kerajaan selama-lamanya pada akhir abad 19.

Catatan tentang SHRIVIJAYA
Shrivijaya mulai dikenal setelah G Coedes menerbitkan artikel berjudul; Le Royaume de Crivijaya tahun 1918.
Prasasti tertanggal 682 masehi yang ditemukan tahun 1920 di Kedukan Bukit (Sumatra Selatan) menyatakan kedudukan Shrivijaya pertama didaerah Mukha-P
Prasasti Talang Tuo tertanggal 684 masehi didesa Gandus, Palembang tahun 1920 diceritakan tentang pembangunan taman yang bernama Sriksetra oleh seseorang yang bernama Dapunta Hyang Sri Jayanasa (pemimpin komunitas ?)
Seluruh bangunan dipusat kota Shrivijaya diduga terbuat dari bahan yang mudah rusak dimakan zaman, kecuali sisa yang terendam didalam rawa atau ditepian sungai. Sisa bangunan dari bahan kayu ditemukan disitus Ujung Plancu, Kabupaten Batanghari, Jambi. Ditemukan pula bangunan dengan bahan batu bata disitus GendingSuro, Candi Angsoka dan bukit Siguntang (hanya tinggal pondasi)
Apakah Shrivijaya merupakan kerajaa besar? Prasasti Kota Kapur yang ditemukan dipulau Bangka tahun 1892 oleh JK van der Meulen didapat petunjuk bahwa kerajaan Shrivijaya sedang berusaha menaklukan Bumi Jawa (kerajaan Tarumanagara - Banten?), hal ini dapat disimpulkan Shrivijaya mungkin memang kerajaan besar

Kesimpulan sementara saya

West Sumatra tourism sector in amount - Local INVESTMENT in 2005 = Rp 607,420,000.00; Foreign in 2005 = USD 85,568,000.00 - Bisnis Indonesia news, August 15, 2006

Traditional wooden village house - KOTO PILIANG style - KotaKota magazine, 2004

ARAU CLIFF - Echo cliff - The famous Rock Climbing area

Walaupun pada akhirnya saya tetap belum dapat dikatakan telah menguasai tentang siapa dan bagaimana masyarakat Minang secara mendalam, akan tetapi dari hasil analisa sementara, saya berpendapat bahwa sampai saat ini belum ada satupun sumber data autentik yang dapat mengidentifikasikan proses perkembangan masyarakat Minang dengan jelas, paling tidak dari sejak sekitar abad 13 masehi, pada saat ajaran islam diduga telah meluas diterima diwilayah tersebut bersamaan sejak dynasti Adityawarman memimpin wilayah Pagarruyung. Pada sisi lain saya juga mempunyai pandangan sendiri tentang silsilah keturunan kerajaan Pagarruyung, kaitan MinangKabau dengan kerajaan Shrivijaya serta apa sebetulnya yang menjadi pemicu terjadinya pemberontakan yang digagas oleh kelompok PADRI yang saya coba uraikan berikut ini.

Mengenai keturunan keluarga kerajaan PAGARRUYUNG

RANGKIANG for storaging rice - A replica at ISTANO BASA Palace, Pagaruyung, Tanah Datar district


Interior old RUMAH GADANG, Koto Piliang style - Tilatang village - Built 1905 - By Dja'a Dt Batuah, former DEMANG AMPEK ANGKEK district

Jika saat ini ada sementara orang atau keluarga yang berasal dari MinangKabau menyatakan dirinya masih keturunan keluarga kerajaan Pagarruyung, berdasarkan uraian sebelumnya, maka paling tidak ada dua kemungkinan silsilah bagi orang atau keluarga tersebut yang dapat dirunut, yaitu berasal dari garis keturunan Raja NUR ALAM di DUSUN TUO yang memindahkan kerajaannya kedaerah BUKIT BATU PATAH dan terakhir dipindahkan kewilayah Pagarruyung di BATUSANGKAR, atau sebagai keturunan dari dynasti Adityawarman yang sejak tahun 1347 (kata DepDikNas) menguasai Pagarruyung, tetapi untuk kemungkinan ini disangsikan keturunannya, karena dynasti ini telah dianggap PUNAH, serta hubungannya dengan Raja NUR ALAM juga masih belum dapat terungkap, paling tidak oleh saya sendiri (hehehehe). Kemungkinan lain lagi, kalau masih meyakini diri merupakan keturunan dari kerajaan pertama yang ada di MinangKabau, berarti sebagai penganut Matrilinear, silsilah yang dapat dirunut bisa berasal dari keturunan salah satu dari ketiga istri Raja SULTAN SHRI MAHARAJ DIRAJ dari kerajaan KOTO BATU, yaitu CINTO DUNIA, PUTI SEDAYU atau INDO JELITA. serta bisa juga keturunan dari kedua putri pasangan INDO JELITA dengan CETI BILANG PANDAI, yaitu PUTI JAMILAN & PUTI RENO SUTA (????!!!!)

Jadi, saya penulis, mungkin saaaaja masih keturunan dari keluarga kerajaan yang pernah ada di MinangKabau, andapun para pembaca, mungkin juuuuuga....???? tapi harus asli keturunan Matrilinear dari etnik Minang, gethoo lhoooo !!!!


PERTANYAAN SAYA
Bagaimana dapat diyakini, andaikata jika memang benar masih ada keturunan dari keluarga kerajaan Pagarruyung dari silsilah ADITYAWARMAN, dijamin keaslian darah MinangKabau nya?
Karena apabila data yang saya dapatkan benar, bahwa ADITYAWARMAN (asal dari tanah JAWA) menikah dengan putri dari KEDIRI bernama BRAHMANIGEREGES dengan gelar Tuan GADIH Puti JAMILAN, circa 1347 masehi.
Mossok keturunan Raja MinangKabau gak ada darah MinangKabau sedikit juuga? jangan getho dhuonk !

Bagaimana dengan keturunan dari Dt Perpatih & Dt Ketumenggungan (anak Indo Jelita & Ceti Bilang Pandai dari kerajaan DUSUN TUO jauh sebelum Mr. ADITYAWARMAN datang ke Tanah Datar? - tulisan diatas) padahal kedua Datu tersebut yang membentuk system Bodi Chaniago & Koto Piliang? Menurut saya harus dicari keturunan kedua Datuk tersebut, karena mereka yang lebih berhak diberikan posisi dan julukan "Keturunan keluarga kerajaan Pagarruyung, MinangKabau".

Korelasi wilayah MinangKabau dengan kerajaan Shrivijaya

SITINJAU LAUT post - An upper place for viewing Indian ocean - SawahLunto district, Des 1988

Dilihat dari strategi pemerintahannya, wilayah MinangKabau sejak dibawah kerajaan Pagarruyung pertama, mengesankan tidak terlalu berkonsentrasi kepada jalur perdagangan laut serta tidak terlalu berambisi untuk memperluas wilayah kerajaan. Padahal dengan adanya muara sungai Kampar yang berada diwilayah Jambi sebagai jalur historis asal mula datangnya nenek moyang masyarakat Minang, Pagarruyung dapat menciptakan pelabuhan dagang bongkar-muat (dockland) untuk membuka langsung hubungan dengan para pedagang Arab, Cina dan India yang sejak sekitar abad 12 memang telah melakukan transaksi bisnis dengan kerajaan Samudra Passai (SP) di Sumatra Utara, serta kerajaan Shrivijaya (SVJ) di selatan.
Kelemahan dibidang maritim tersebut kelihatannya dimanfaatkan oleh kerajaan tetangga seperti SP dan SVJ tersebut, yang mana kekuatan kedua kerajaan itu sesuai dengan data sejarah, kemampuan angkatan laut mereka dapat menguasai selat Malaka sebagai jalur utama perdagangan wilayah Asia Timur.
Pada sekitar abad 12 hegemoni Shrivijaya terhadap jalur perdagangan diselat Malaka dapat dipatahkan oleh angkatan laut dari Cina, yang sekaligus juga merebut pusat pemerintahan kerajaan Shrivijaya. Berdasarkan data sejarah yang masih belum dapat dipadukan, pada masa itu ditenggarai sebagian keluarga kerajaan SJV menyingkir kewilayah Jambi, dan seperti data yang didapat pula, pada masai itu wilayah Jambi masih merupakan bagian dari wilayah Minangkabau, tetapi mungkin juga bukan merupakan bagian wilayah kerajaan Pagarruyung jika dilihat secara geographis pemerintahan. Oleh karena itu sementara dapat disimpulkan bahwa Pagarruyung sejak dibawah Raja NUR ALAM tidak pernah memperlihatkan tendensi untuk mengamankan apalagi memperluas wilayah kerajaan, yang ada malah cenderung berkurang dengan dikuasainya Jambi oleh SJV tanpa adanya data tentang perlawanan dari pihak Pagarruyung. kemudian pada waktu Pagarruyung dibawah dynasti Adityawarman, kerajaan tersebut terkesan mempunyai alasan tersendiri untuk tidak bersifat ekspansif, hal ini mungkin dikarenakan keberadaan sebagian dynasti Adityawarman di Pagarruyung adalah untuk mengasingkan diri dari kejaran pasukan Cina yang telah menguasai pusat SJV, yang pada waktu bersamaan ada sebagian dari dynasti adityawarman yang menyingkir kewilayah Tumasik (Singapore) dipimpin oleh PHARAMESVARA yang kelak dikemudian hari setelah memeluk agama Islam mengganti nama menjadi Sultan Iskandar Syah (hhayyahhhh???!!)

Masyarakat tradisional Minang secara kelompok dan individu terkesan memang tidak mempunyai jiwa ekspansif, yang dipunyai hanyalah sifat perantau pedagang yang individualis dan melihat hubungan kekerabatan hanyalah sebatas lingkup nagari tempat mereka berasal. Yang menjadi pertanyaan kemudian; apakah wilayah MinangKabau dahulu dapat dikategorikan sebagai wilayah kerajaan dan apakah Pagarruyung dizaman dynasti Adityawarman secara deFacto merupakan satu pemerintahan yang menguasai wilayah Minang? karena dengan melihat kekuasaan otonom yang dimiliki setiap wilayah kenagarian sejak zaman sebelum dynasti Adityawarman, menimbulkan kesan bahwa Pagarruyung tidak menguasai MinangKabau secara deFacto, tetapi mungkin saja secara deJure dari kacamata kolonialist Belanda pada waktu itu. Apalagi memang tidak ditemukan catatan sejarah yang menginformasikan tentang keberadaan kekuatan angkatan bersenjata kerajaan tersebut baik darat maupun laut.

Mengenai pemberontakan kaum PADRI

SIANOK Cliff, Bukitinggi, from another angle - Photographed 1980s


Mr. IMAM BONJOL - Is declared to be a national native hero ?? - It is still DEBATEABLE up to know - Actually, his parent were an Atjehness trader, he lived in Atjeh trader community, at BONJOL village - His real name is PETO SJARIEF, close to Atjehness common name....

Meletusnya pemberontakan PADRI (1821 - 1837), berdasarkan analisa sementara saya, seharusnya pemeberontakan tersebut tidak perlu terjadi kalau tidak ada provokator extrim penganut aliran Wahabbi saat itu (yang sudah merasuki jiwa kaum PADRI), serta apabila para kelompok pedagang asal Aceh tidak terlalu serakah untuk selalu ingin mendominasi perdagangan diwilayah MinangKabau. Kemudian juga sangat disayangkan sikap PETO SYARIEF alias MALIM BASA alias MUHAMMAD SAHAB yang menamakan dirinya TUANKU IMAM BONJOL (TIB) sebagai pemimpin kelompok pedagang dari desa Bonjol, terlepas dari kerugian usaha perdagangan yang mereka alami, secara keras memutuskan untuk melakukan pemaksaan penghapusan SEKULARISME di MinangKabau tanpa berpikir panjang atas akibat apa yang akan terjadi terhadap masyarakat Minang keseluruhan dikemudian hari. Dengan durasi pemberontakan selama hampir 16 tahun lamanya, dapat diperkirakan bagaimana kukuh dan kerasnya sikap TIB yang tidak ada tawar menawar serta mengesankan tidak mau perduli terhadap akibat yang dirasakan seluruh masyarakat MinangKabau selama pemberontakan BRUTAL & berkepanjangan tersebut (terang saja, dia bukan orang asli MinangKabau !!!!)
Sikap TIB tersebut menimbulkan dugaan, apakah dia memang ingin menjalankan syariat Islam secara keras atau kecemburuan sosial terhadap keluarga kerajaan Pagarruyung yang pada masa itu sangat membuat kelompok pedagang asal Aceh tersingkirkan. Atau apakah TIB mengetahui bahwa keluarga kerajaan Pagarruyung masa itu bukanlah keturunan asli MinangKabau dari Raja NUR ALAM jauh sebelumnya ?
Apakah tindakan TIB sebenarnya melulu hanya untuk membela kaumnya (pedagang daerah Bonjol) tempat bermukimnya para pedagang asal Aceh, dengan tidak perduli tehadap kehancuran masyarakat MinangKabau (termasuk juga didalamnya wilayah MANDAILING). Sikap TIB pun mencerminkan satu karakter bahwa dia sangat mungkin bukan keturunan Minang yang kental dengan budaya kompromistis dengan philosophi hidup adalah, "musuh tidak dicari, tetapi jika terpaksa, baaru dihadapi", sangat jauh dari temperamen TIB walaupun dia dilahirkan didesa Bonjol, lembah Alahan Panjang tahun 1772.
Pada akhirnya seperti tertulis didalam sejarah, TIB tidak mendapatkan hasil apa-apa baik bagi dirinya pribadi maupun bagi kaum dan keturunannya dikemudian hari. Kekerasan hatinya tidak luluh sampai TIB mati tanggal 6 November 1864 pada usia 92 tahun setelah meringkuk selama 27 tahun dalam tahanan di Menado....

Itulah, politik, strategi dan obsesi tidak mengenal batas waktu dan zaman, yang sama hanyalah masyarakat yang menjadi KORBANNNNNNNNNNNNNNNNNN

CATATAN KECIL
Harian Kompas 6 Februari 2006 - artikel Rosihan Anwar; "Perang Padri yang tak anda ketahui", menceritakan kebiasaan kaum PADRI menculik wanita dalam setiap serangan mereka untuk dijual sebagai BUDAK !!!!

Christine Dobbin (1983), Islamic revivalism in a changing peasant economy, central Sumatra 1784 - 1847, Curzon Press, menceritakan bahwa; PADRI & VOC khawatir terhadap hancurnya hegemony dagang mereka diwilayah MinangKabau dan pantai barat. Dobbin menceritakan bahwa perdagangan budak sangat penting dalam sistem PADRI, bukan hanya sebagai barang dagangan tetapi juga sebagai pengangkut barang dan tentara cadangan, itu sebabnya PADRI dapat melawan VOC selama 16 tahun !!
Kaum PADRI berdasarkan paparan Dobbin, melakukan peperangan secara brutal jauh dari nilai Islam (karena memang sangat kuat diduga tujuan PADRI hanya untuk mempertahankan hegemony wilayah dagangnya diranah Minang)

Coba baca Majalah TEMPO terbitan 21 Oktober 2007 No. 34/XXXVI/Okt.2007, yang juga membahas tentang; Kontroversi kebrutalan kaum PADRI dalam perang didataran tinggi MinangKabau (1803 - 1837)

Jadi menurut saya judul diatas "Mengenai pemberontakan kaum PADRI" sangat tidak relevan, yang lebih cocok adalah; "Mengenai egoisme dan kebrutalan kaum PADRI"

TERNYATA....Dalam memoir Mr. IMAM BONJOL (katanya di halaman 39); dia akhirnya SADAR dan MENYESALI, kalau "perjuangan" kaum PADRI selama 16 tahun di wilayah Minangkabau sudah jauh melenceng dari ajaran agama Islam....

Zaman pemberontakan kaum PADERI

CEMETERY ancient statue, ADITYAWARMAN Kingdom era, 13-14 century - Location; Istano BASA PALACE, Pagaruyung, TANAH DATAR district - Kompas, 20 April 2003

Traditional wooden house - UBA village, Bukitinggi, Desember 1988

Berdasarkan data sejarah, pemberontakan tersebut dipicu oleh perlawanan salah satu kelompok masyarakat diwilayah MinangKabau yang mempunyai pemikiran sejalan dengan Peto Syarief beserta dengan para panglimanya yang dijuluki Harimau Nan Delapan (salah satunya adalah Tuanku Nan Renceh yang diduga sebagai salah satu komandan PADRI yang paling BRUTAL,) memimpin perang PADRI untuk menghapus paham sekularisme di Minang (ini kata mereka..) serta hegemoni perdagangan oleh kolonial VOC diwilayah MInang (menurut saya lebih cocok disebut kaum PADRI melakukan pelanggaran HAM berat di ranah Minang).
Pada masa itu sekitar tahun 1825, Belanda dibawah Kapten Bauer membangun benteng (Fort) dengan memakai nama seorang Gubernur Jenderal Belanda yaitu Jendral DeKock dipuncak wilayah yang kemudian dnamakan wilayah Fort DeKcok (Bukit Tinggi) pada zaman itu. Diera pemberontakan PADRI itu pula (1827) dibangun menara pengintai (jam Gadang sekarang) dipusat wilayah Fort DeKock oleh Controleur Rookmaker, sedangkan benteng lainnya dibangun diwilayah Batu Sangkar dengan nama benteng Van der Capellen.

PADRI WAR..it was merely a social conflict between Aceh trader's Clan and PAGARRUYUNG's Clan...and about Mr. IMAM BONJOL, heeeee....is far from what we always been told; a national heroic? Oh nonononoo. In fact, VOC was took an advantage at that time. (lihat artikel Rosihan Anwar; Kompas, 6 Februari 2006 & buku Dobbin, 1983)

Well....pembaca yang budiman, terserah pada Anda, apakah sekarang masih berpendapat bahwa memang benar Mr. IMAM BONJOL dan Mr. RENCEH adalah pahlawan nasional atau bukan, dan apakah gerakan kaum PADRI saat itu memang betul2 membela Islam dan memerangi VOC dengan stigma "Penjajah"?

Siapakah sebenarnya PENJAJAH dan yang DIJAJAH ?
Mr. RENCEH sebagai penganut Islam Wahabbi militan (diduga mirip dengan TALIBAN dan ALQAEDA sekarang), yang selalu menghancurkan setiap NAGARI (di wilayah Minang) yang tidak sepaham dengan dia, yang selalu melakukan pelanggaran HAM dan menganiaya kaum wanita hingga dijadikan GUNDIK oleh pasukannya.
Atau,
VOC dengan pasukan terdiri dari banyak orang dari etnik JAWA (pasukan dibawah SENTOT ALIBASYA, mantan panglima nya DIPONEGORO !) dan MALUKU, yang bersepakat dengan kerajaan Pagarruyung untuk menghadapi kaum PADRI
Atau,
Apakah kerajaan Pagarruyung (Era Adityawarman) sebagai pihak yang TERJAJAH atau PENJAJAH rakyat MinangKabau?